|
History / Sejarah Silsilah Lands
|
G apura
Gladag

Gapuro Gladag
Pada awalnya, Gapura Gladad adalah pintu
masuk wilayah Karaton Surakarta dari arah
Utara yang didesign dalam bentuk gapura
melengkung dan dibuat dari besi yang dihias
berbagai gambar binatang buruan. Dari
perkembangannya hingga saat ini, Gapura
Gladag tersebut akhirnya berbentuk candi
bentar dengan ornamen hias yang berjumlah 48
dan jeruji tembok yang juga berjumlah 48.
Hal ini merupakan angka peringatan ulang
tahun PB X pada saat pembangunan gapura
ini.. Didepan Gapura Gladag, terdapat dua
arca raksasa kembar dikiri dan kanan jalan
yang disebut ARCA PANDITA YAKSA.
Pada jaman dahulu, space-area disekitar
Gapura Gladag dan Gapura kedua dipakai
sebagai tempat menyimpan binatang hasil
buruan sebelum digladag (dipaksa) dan
disembelih ditempat penyembelihan. Space
area tersebut, setelah tidak dipakai untuk
tempat binatang hasil buruan.
Seperti telah disinggung didepan, wujud
arsitektur pada kawasan Gladag ini adalah
mengandung arti simbolis ajaran langkah
pertama dalam usaha seseorang untuk mencapai
tujuan ke arah Manunggaling Kawulo Gusti.
Arti simbolistis dari wujud fisik Gapura &
Kawasan Gladag ini adalah :
-
Dua arca Pandita Yaksa, mengandung
simbol bahwa siapapun yang bermaksud
melaksanakan laku Manunggaling
Kawulo Gusti, pasti akan menghadapi
banyak rintangan yang menakutkan,
sehingga si pelaku harus benar-benar
sadar, siap dengan semangat baja dan
penuh percaya diri.
-
Arca Raksasa maupun Gambar Binatang,
merupakan simbol dari agama Sumbo (lihat
buku Pustaka Raja Purwa, dan buku
Tapal Adam).
-
Gapura Gladag, yang berupa gapura
kembar dikiri kanan jalan masuk
adalah merupakan wujud kreatifitas
dari Candi Bentar, yang pada jaman
dahulu dikenal sebagai ciri khas
gapura masuk kawasan suci pusat
budaya bathin yang banyak dijumpai
di daerah pegunungan.
-
Kawasan Gapura Gladag secara
menyeluruh mengandung arti
simbolistis ajaran Kebatinan Jawa
dan ke-Islam-an bahwa seseorang yang
akan melaksanakan keutamaan lahir
batin, harus dapat menguasai hawa
nafsu pribadinya yang bagaikan nafsu
hewani, yang didalam ke Islaman
dikenal dengan istilah nama nafsu
luamah.
Pamurakan adalah
merupakan bagian ruang antara gapura kedua
dan gapura ketiga. Tempat ini berfungsi
sebagai tempat penyembelihan (murak)
binatang hasil buruan, dimana daging
tersebut kemudian dibagikan secara adil
kepada para putra sentana dan abdi dalem
yang saat itu berada dilokasi penyembelihan.
Ditepi jalan daerah Pamurakan terdapat
bangunan bangsal yang diberi nama Bangsal
Pamurakan. Bangsal ini adalah bangunan
tempat menyembelih binatang buruan. Selain
terdapat gambar api berkobar dan gambar
matahari, di dalam Bangsal Pamurakan. itu
juga terdapat dua batu centeng besar
berbentuk persegi, dengan lubang persegi
ditengahnya (figure 3.18), yang berfungsi
sebagai tempat membakar dupa pada saat
mengadakan upacara penyembelihan hewan
buruan.
|
|