Pasinaon Sejarah

Upacara Tingalan Dalem Jumenengan

S. Candra Wujana
December 14, 2023

Upacara tradisi adat merupakan bentuk implementasi dari sebuah kehidupan spiritual. Dalam konsep kosmologi Jawa, raja selain menjadi pemegang kekuasaan tertinggi raja juga diposisikan sebagai panata gama atau pemimpin keagamaan. Raja memiliki peran sakral dalam menciptakan atau menjaga keseimbangan harmoni kehidupan mikro dan makrokosmos. Untuk menjalankan tugas tersebut, ia memerlukan perangkat pendukung dalam bentuk upacara ritual dengan segala unsur pranatanya.

Karaton Surakarta Hadiningrat yang merupakan pusat dari kebudayaan Jawa memiliki banyak tradisi yang masih dilaksanakan hinga saat ini. Upacara adat Tingalan Jumenengan merupakan salah satu ritual yang wajib dilaksanakan di Karaton Surakarta Hadinigrat. Tingalan Jumenengan termasuk upacara sakral untuk memperingati ulang tahun penobatan raja menurut perhitungan penanggalan Jawa. Sakral karena pada kesempatan tersebut raja dengan segala atribut kebesarannya akan miyos tinangkil dalam pisowanan ageng di Bangsal Sasana Sewaka. Pisowanan yang diikuti oleh segenap abdi dalem, kerabat serta putra sentana ini digelar untuk memperingati ulang tahun kenaikan tahta penobatan Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwana.

Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwana XIII bersama putri -putri beliau

Sebelum digelarnya upacara Tingalan Jumenengan,berbagai kegiatan tradisi dilakukan oleh Karaton Surakarta, diantaranya adalah :

1.     unjuk uningo yaitu pengumuman atau pemberitahuan kepada leluhur dalam bentuk ziarah ke makam leluhur Karaton Surakarta di Imogiri dan Kota Gedhe serta ke Pantai Parang Kusumo yang diyakini sebagai tempat penguasa pantai selatan yaitu Kanjeng Ratu Kencanasari.

2.     Jamasan yang berarti memandikan atau membersihkan benda pusaka yang akan digunakan dalam upacara Tingalan Jumenengan. Berbagai pusaka gangsa atau gamelan yang akan digunakan dalam upacara tradisi ini, akan dijamas, dibersihkan, beberapa hari sebelum dilangsungkannya upacara Tingalan Jumenengan. Gamelan - gamelan yang dipersiapkan dalam acara ini antara lain adalah Gangsa Kyai Kancil Belik yang dijamas beberapa hari sebelum Tingalan Jumenengan. Setelah dijamas, Kyai Kancil Belik akan dipersiapkan di Bangsal Pradonggo. Sementara Rebab Gading dan Kanjeng Kyai Sekar Delima dipersiapkan di Sasana Sewaka.

Jamasan Gangsa Kanjeng Kyai Sekar Delima

3.     Wisudhan atau pemberian ganjaran pangkat atau gelar kepada para abdi dalem yang dianggap telah ikut berjasa kepada Karaton Surakarta. Wisudhan Pemberian ganjaran kepada para abdi dalem anon-anon dan sentono dalem. Pemberian gelar ini diberikan melalui wisuda dengan penyerahan surat kekancingan (sertifikat). Pemberian ganjaran dan gelar sudah berlangsung secara turun temurun. Selain menaikkan gelar para abdi dalem karaton yang memiliki kinerja baik, raja juga memberi gelar untuk orang dari luar karaton yang berjasa kepada karaton. Kenaikan pangkat diberikan, dengan harapan yang bersangkutan semakin mampu meningkatkan kinerja sebagai abdi dalem karaton, juga meningkatkan keikutsertaan dalam melestarikan budaya Jawa. Abdi dalem golongan bawah, dari jajar sampai wedana yang berasal dari golongan priyayi mendapat gelar Raden; sedangkan yang berasal dari rakyat biasa mendapat gelar Mas. Abdi dalem golongan atas,dari bupati anom sampai bupati nayaka bergelar Kanjeng RadenTumenggung (KRT). 

4.     Gladhen atau latihan tari Bedhaya Ketawang yang dilaksanakan beberapa hari secara rutin sebelum upacara Tingalan Jumenengan dilangsungkan. Gladhen Bedhaya selama beberapa hari ditutup dengan Kirab Bedhaya

Kirab Bedhaya sebagai persiapan terakhir Bedhaya Ketawang di upacara Tingalan Jumenengan

Inti acara dari upacara adat ini adalah pisowanan ageng atau menghadapnya seluruh abdi dalem yang memiliki hak sowan kepada sinuhun, dan puncak acara dari Tingalan Jumenengan adalah digelarnya tari Bedhaya Ketawang, tarian klasik Jawa yang sudah berusia ratusan tahun. Bedhaya Ketawang merupakan tarian Jawa klasik yang hanya diperbolehkan ditampilkan dalam acara Tingalan Jumenengan saja, tidak boleh untuk acara-acara yang lain.

Jumenengan dan tari Bedhaya Ketawang  merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan, karena pada saat upacara resmi ini tari Bedhaya Ketawang merupakan bagian penting dari prosesi Tingalan Jumenengan. Sebagai penerus dinasti Mataram, Karaton Surakarta Hadiningrat masih memegang Pranatan (peraturan) adat yang kuat sebagai identitas sumber kebudayaan Jawa. Secara umum, makna dari upacara Tingalan Jumenengan yakni, sebagai bukti atau pertanda bahwa masih ada yang Jumeneng Nata (bertahta) dan suatu pertanda bahwa masih tetap ada tata cara adat diKaraton Surakarta Hadiningrat.

Tingalan Jumenengan termasuk upacara sakral untuk memperingati ulang tahun penobatan raja menurut perhitungan penanggalan Jawa. Sakral karena pada kesempatan tersebut raja dengan segala atribut kebesarannya akan miyos tinangkil dalam pisowanan ageng di Bangsal Sasana Sewaka.

Sebelum pergelaran tari Bedhaya Ketawang dimulai Sinuhun miyos (keluar) dari Dalem Ageng Prabasuyasa ke pendapa Sasana Sewaka diiringi gendhing Sri Katon sampai lenggah (duduk) di dhampar kencana (singgasana) menghadap ke timur. Ketika raja duduk di dhampar kencana ini raja menampakkan kewibawaannya, suasana hening, semua tamu-tamu yang hadir marikelu atau menunduk. Setelah itu, para kerabat karaton atau yang biasa disebut sentana dalem berjalan jongkok untuk menyembah kepada raja.

Prosesi ini disaksikan oleh putra putri, bupati,dan abdi dalem seluruhnya di pendapa Sasana Sewaka. Kemudian disusul dengan masuknya abdi dalem Nyai Mas Tumenggung ( abdi dalem wanita yang membawa masuk penari Bedhaya Ketawang ). Abdi dalem Nyai Mas Tumenggung memberikan laporan kepada Raja bahwa tari Bedhaya Ketawang sudah siap dikeluarkan dan melaporkan bahwa semua sudah siap untuk menjalankan upacara dengan diiringi gendhing Puspa Warna. Abdi dalem Nyai Mas Tumenggung berjalan dengan jongkok paling depan diantara sembilan orang penari Bedhaya Ketawang.

KGPH. Hangabehi ( depan ), BRM.Yudhistira ( kanan ) bersama dengan para kerabat Karaton Surakarta

Ketika alat musik rebab sudah mulai dimainkan sebagai tanda keluarnya penari Bedhaya Ketawang dari Dalem Ageng Prabasuyasa menuju ke pendapa Sasana Sewaka, suasananya menjadi sunyi senyap. Lurah pasindhen bowo membuka tembang. Kemudian penari keluar dari Dalem Ageng Prabasuyasa memasuki pendapa Sasana Sewaka berjalan urut satu persatu, dan Bedhaya Ketawang pun mulai dipentaskan. Seluruh rangkaian upacara Tingalan Jumenengan berakhir ketika Gendhing Ketawang Gedhe berhenti, yang artinya tarian Bedhaya Ketawang sudah selesai.

Bedhaya Ketawang sebagai inti upacara Tingalan Jumenengan

Kemudian disusul dengan terdengarnya gendhing Ladrang Calapita atau yang biasa disebut juga dengan undur-undur kajongan, yang diartikan, undur-undur berarti mundur dan kajongan berarti meninggalkan dhampar. Dengan dimainkannya ladrang ini berarti bahwa acara Tingalan Jumenengan telah selesai, ditandai dengan Sinuhun atau Raja meninggalkan dhampar untuk kembali ke Dalem Ageng. 

Puncak acara dari Tingalan Jumenengan adalah digelarnya tari Bedhaya Ketawang, tarian klasik Jawa yang sudah berusia ratusan tahun. Bedhaya Ketawang merupakan tarian Jawa klasik yang hanya diperbolehkan ditampilkan dalam acara Tingalan Jumenengan saja.

Share this post
Tag 1
Tag 2
Tag 3
Tag 4